Nusa Penida bukan sekadar pulau indah di lepas pantai Bali — selama berabad-abad ia dianggap sebagai salah satu tempat paling misterius dan ditakuti di kawasan ini.
Selama berabad-abad, pulau ini digunakan sebagai tempat pengasingan bagi penjahat dan orang buangan. Pulau ini juga sangat erat dikaitkan dengan ilmu hitam dan kekuatan spiritual yang kuat dalam budaya Bali. Hingga kini, banyak penduduk lokal percaya Nusa Penida memiliki energi yang unik, dibentuk oleh pura-pura, ritual, dan tradisi kunonya.
Saya tinggal di Nusa Penida sejak 2017, dan sisi spiritual pulau ini bukan sekadar cerita bagi saya: saya pernah mengambil air suci untuk upacara di pura, mengikuti ziarah, bahkan menyaksikan salah satu karyawan saya kerasukan (trance) saat ritual penyucian. Dalam panduan ini, Anda akan mengetahui sejarah Nusa Penida yang sebenarnya, arti kata “nusa”, makna budayanya, dan mengapa pulau ini dahulu dianggap berbahaya.
Apa arti “Nusa Penida” dalam bahasa Bali?
Nusa Penida berasal dari bahasa Bali: “Nusa” berarti “pulau” dan “Penida” berarti “pendeta”. Maka, Nusa Penida secara harfiah berarti “pulau para pendeta”. Namanya bermakna budaya karena mencerminkan hubungan historis pulau ini dengan Hindu Bali. Sebaliknya, Belanda menyebutnya “Bandit Island” (pulau bandit) pada 1900. Reputasi petualangan pulau ini bahkan diabadikan dalam komik karya Bob de Moor, yang terbit di Journal de Tintin pada 1950. Komik tersebut mengikuti tokoh utamanya, Georges Barelli, dalam perjalanannya ke Nusa Penida setelah petualangan panjang, seperti tampak pada sampul albumnya.
Apa arti Nusa?
Kata “nusa” berarti pulau dan berasal dari bahasa Jawa Kuno serta Sanskerta. Kata ini masih digunakan dalam banyak nama tempat di Indonesia, seperti Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Nusa Tenggara.

Sejarah Nusa Penida: pulau pengasingan
Sejarah Nusa Penida sudah berusia lebih dari seribu tahun. Salah satu catatan tertua tentang pulau ini adalah Prasasti Belanjong, yang dipahat pada 914 M, berisi inskripsi tentang kampanye militer yang dipimpin Sri Kesari Warmadewa — raja Bali pertama yang tercatat dalam sejarah — terhadap Nusa Penida. Tulisan kuno ini memberi gambaran langka tentang peran awal pulau ini dalam sejarah Bali yang lebih luas.
Meskipun penduduk Nusa Penida berhasil menahan beberapa ekspedisi militer yang dilancarkan para raja Bali, dinasti Gelgel akhirnya menaklukkan pulau ini pada paruh kedua abad ke-17. Raja terakhir Nusa Penida, Dalem Bungkut, gugur dalam pertempuran selama ekspedisi itu.
Setelah ditaklukkan, Nusa Penida menjadi bagian dari istana Klungkung, salah satu dari sembilan kerajaan di Bali. Bahkan setelah Bali masuk ke Hindia Belanda pada 1908 dan kemudian menjadi bagian Indonesia, Nusa Penida tetap berada di bawah Kabupaten Klungkung.
Menariknya, peta Belanda tahun 1900 menyebut Nusa Penida sebagai “Bandit Island“. Kemungkinan besar karena Kabupaten Klungkung membuang para penjahat, lawan politik, dan praktisi ilmu hitam ke pulau ini. Reputasi ini mungkin turut melahirkan banyak legenda seputar Nusa Penida sekaligus membuat pariwisatanya lama tidak berkembang.

Mengapa Nusa Penida dianggap berbahaya?
Selama berabad-abad, Nusa Penida dipandang sebagai pulau yang berbahaya dan ditakuti dalam budaya Bali karena keterpencilannya, kondisi hidup yang keras, dan kaitan spiritual yang kuat.
Secara historis, pulau ini digunakan sebagai tempat pengasingan oleh kerajaan-kerajaan Bali, tempat para penjahat dan orang buangan dikirim jauh dari masyarakat. Pada saat yang sama, pulau ini dikaitkan dengan ilmu hitam dan kekuatan spiritual yang kuat, memperkuat reputasinya sebagai tempat yang misterius dan meresahkan.
Ketakutan ini masih sangat nyata hingga kini. Saya bertemu banyak orang Bali yang tinggal di pulau utama tetapi tidak mau menginjakkan kaki di Nusa Penida. Kebanyakan akan bilang itu karena penyeberangan kapal — tetapi jika digali lebih dalam, mereka mengakui takut pada roh dan setan yang konon menghuni pulau ini. Saya pernah melihat sopir-sopir lokal menolak mentah-mentah mengantar tamu kembali ke hotel di bagian pulau yang terpencil sekitar pukul 23.00, karena takut pada roh. Akhirnya kami berhasil meyakinkan seorang sopir muslim untuk melakukannya — dan ia baru mau setelah mengajak dua orang lain. Ketiganya kembali dengan wajah pucat ketakutan setelah mengantar para tamu.
Kini Nusa Penida aman dan ramah, tetapi masa lalu ini masih membentuk identitas budayanya yang unik.
Nusa Penida dan ilmu hitam dalam budaya Bali
Menurut legenda, penguasa terakhir Nusa Penida, Dalem Bungkut, menjelma menjadi Ratu Gede Mas Mecaling, Sang Penguasa Agung bertaring emas, di alam baka. Legenda lain menyebut Mecaling berasal dari Batuan, sebuah desa kecil di Bali, tetapi diasingkan ke Nusa Penida karena keterlibatannya dengan ilmu hitam. Bagaimanapun, namanya masih menimbulkan rasa takut pada sebagian orang Bali yang menghindari menyebutnya dengan keras.
Mecaling adalah setan yang menakutkan, dikenal menebar penyakit dan wabah kepada orang Bali demi balas dendam. Suatu kali, saat perayaan Nyepi yang penuh sukacita, Mecaling dengan licik menyamar sebagai Barong, pemimpin pasukan kebaikan. Ia memimpin pasukan setannya untuk menebar kekacauan dan menghancurkan segala sesuatu di Bali. Akibat pengkhianatan ini, Tahun Baru Bali, Nyepi, kini diperingati sebagai hari hening dan perenungan, tanpa suara maupun keramaian, untuk mengelabui setan yang mungkin kembali.
Asal mula ziarah ke Nusa Penida
Setelah serangan itu, masyarakat Bali meminta bantuan seorang pendeta yang memanggil Barong untuk mengembalikan Mecaling ke Nusa Penida. Para pendeta tinggi kerajaan Gelgel kemudian menyucikan pulau dari roh-roh jahat dan mengasingkan Mecaling, tetapi rohnya tetap berada di Pura Ped. Karena itu, pura ini sekaligus menjadi sumber kekuatan bagi pelaku ilmu hitam dan tempat ziarah bagi mereka yang mencari perlindungan dari kejahatan dan penyakit.
Setiap umat Hindu di Bali wajib berziarah ke Pura Ped di Nusa Penida setidaknya sekali seumur hidup, di mana mereka harus berupaya menemukan keseimbangan antara energi negatif dan positif untuk mencapai ketenangan dan keharmonisan.

Upacara penyucian yang tak akan saya lupakan
Anda tidak perlu percaya pada roh untuk merasakan betapa nyatanya kehadiran mereka dalam kehidupan sehari-hari di sini — tetapi setelah apa yang saya lihat, saya tidak lagi menyepelekannya. Saat upacara penyucian Mecaru di hotel saya, salah satu karyawan saya tiba-tiba kerasukan. Dalam kepercayaan Bali, begitulah cara roh berkomunikasi dengan yang hidup: mereka merasuki seseorang yang, setelah trance berakhir, menyampaikan apa yang diinginkan roh. Hari itu, roh berkata bahwa ia senang kami mengadakan upacara, tetapi merasa agak diabaikan pada tahun-tahun sebelumnya, dan kami harus berbuat lebih baik.
Sejak itu kami rutin mempersembahkan sesajen harian (canang dan dupa). Selama bertahun-tahun saya juga mengambil air suci di beberapa pura di pulau ini — Pura Dalem Ped, Goa Giri Putri, Puncak Mundi, Sebunibus, bahkan pohon keramat di dekat hotel kami, Adiwana Warnakali — untuk upacara penyucian keesokan harinya. Di pulau ini, dunia spiritual bukan atraksi wisata: ia bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pentingnya sisi spiritual Nusa Penida saat ini
Apa saja jenis pura di Bali dan Nusa Penida?
Di Bali, tempat ibadah disebut “pura”, dan ada berbagai jenis dengan fungsi khusus dalam ritual Bali. Istilah “pura” berasal dari kata Sanskerta yang berarti “kota” atau “istana”.
- Kawasan pegunungan Bali menjadi rumah bagi Pura Kahyangan Jagad. Gunung dianggap sebagai alam yang sakral dan magis. Kompleks Besakih, di Gunung Agung, adalah Pura Kahyangan terpenting di Bali.
- Untuk fungsi pengelolaan air dan kegiatan keagamaan, ada Pura Tirta yang tersebar di berbagai desa dan kota.
- Pura Desa menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Bali di setiap desa.
- Pura Puseh dipersembahkan untuk pemujaan Wisnu, sedangkan Pura Mrajapati untuk Prajapati, penguasa penciptaan dan pelindung.
- Pura Segara, yang terletak di tepi laut, penting saat Melasti dan digunakan untuk menyenangkan para dewa laut. Pura Tanah Lot adalah salah satu contohnya.
- Pura Dalem dipersembahkan untuk pemujaan Siwa, Durga, Ibu Pertiwi, Banaspatiraja (Barong), Sang Bhuta Diyu, Sang Bhuta Garwa, dan dewa-dewa lain. Pura ini terkait dengan ritual seputar kematian.
Di Nusa Penida, pura yang paling banyak dikunjungi adalah Pura Dalem Ped dan Pura Goa Giri Putri. Keduanya adalah tempat penting untuk memahami budaya dan sejarah pulau ini.
Pura Dalem Ped
Pura Dalem Ped adalah kompleks pura yang sangat penting di kepulauan Nusa Penida. Masyarakat Bali sangat menghormatinya sebagai salah satu pura paling sakral di Bali, karena kaitannya dengan raja setan Mecaling. Kompleks ini terdiri atas lima pura berbeda, masing-masing dengan tujuan dan maknanya. Di utara terdapat Pura Segara, istana Batara Baruna, dewa lautan, dekat pesisir Selat Nusa. Di selatan ada Pura Taman, pura taman dengan kolam berhias teratai, yang didedikasikan untuk pembersihan jiwa. Bagian barat menjadi tempat pura utama, Penataran Ratu Gede Mecaling. Dua pura terakhir adalah Pelebaan Ratu Mas dan Bale Agung.
Pada Desember 2019, selama pembangunan Hotel Adiwana Warnakali, saya mengunjungi Pura Dalem Ped untuk pertama kalinya guna mengambil air suci untuk sebuah upacara penting. Meski tahu upacara akan berlangsung di empat Pura berbeda, baru pada hari itu saya menyadari akan ada sepuluh upacara, satu di setiap pura dalam kompleks. Tak perlu dikatakan, kami mengumpulkan banyak sekali air suci untuk acara tersebut!

Pura Goa Giri Putri
Pura Goa Giri Putri adalah destinasi luar biasa di antara 15 tempat wajib dikunjungi di pulau Nusa Penida. Goanya sendiri merupakan pemandangan yang menakjubkan. Dengan “goa” berarti gua, “giri” berarti bukit, dan “putri” berarti putri, gua ini terutama dipersembahkan untuk Siwa. Dalam triumvirat Hindu yang bertanggung jawab atas penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran dunia, Siwa adalah dewa ketiga, bersama Brahma dan Wisnu. Peran Siwa adalah menghancurkan alam semesta untuk menciptakannya kembali. Selain itu, di ujung gua terdapat tempat suci yang dipersembahkan untuk dewi welas asih Buddha Tionghoa, Guanyin. Menjelajahi Goa Giri Putri selalu menjadi pengalaman yang memukau. Jangan lewatkan upacara di pura terakhir dalam gua. Dan mintalah gelang khas Bali berwarna merah, putih, hitam untuk dikenakan di pergelangan tangan Anda.

Pura Puncak Mundi
Pura Puncak Mundi berdiri di puncak tertinggi Nusa Penida, lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Jalan menuju ke sana terawat baik dan menawarkan panorama menakjubkan ke seluruh pulau. Kawasan sekitarnya masih sangat alami, jadi besar kemungkinan Anda berpapasan dengan monyet yang jenaka.
Sejarah pura ini berawal pada tahun Saka ke-50 (128 M), ketika Batara Guru, perwujudan Dewa Siwa, turun ke kawasan Puncak Mundi dan menjelma menjadi seorang pendeta bernama Dukuh Jumpungan.
Terdiri atas tiga pura — Pura Beji, Pura Krangkeng, dan Pura Puncak Mundi itu sendiri — Pura Puncak Mundi tetap menjadi tempat ibadah yang dihormati hingga kini.

Hal yang dianjurkan sebelum mengunjungi pura di Bali
Untuk memasuki pura suci mana pun di Bali dengan hormat, dianjurkan mengenakan busana tradisional Bali seperti sarung (kamen), yang biasanya bisa disewa di lokasi. Penting menjaga sikap positif dan menghindari perilaku atau ucapan yang tidak sopan. Menurut adat Bali, perempuan yang sedang menstruasi secara tradisional diminta untuk tidak memasuki pura sebagai tanda hormat.

Bagaimana cara mengenakan sarung di Bali?
Mengenakan sarung dengan benar penting dalam budaya setempat. Dalam bahasa Bali, sarung disebut kamen. Pria dan wanita mengenakannya secara berbeda. Wanita melilitkan sarungnya dari kanan ke kiri, sekitar satu setengah putaran, berakhir di pinggul kanan. Lapisan luar harus jatuh lebih rendah daripada lapisan dalam. Sarung harus menutup tubuh dari pinggul hingga mata kaki. Sarung ditahan cukup dengan diikat, atau dengan tali panjang yang diikatkan di kedua ujungnya. Wanita Bali biasanya mengenakan korset di pinggang pada bagian perut agar rapi. Selendang pinggang (senteng) wajib bagi pria maupun wanita yang menghadiri upacara atau memasuki pura. Wanita mengenakan selendang di luar blusnya.
Pria melilitkan sarungnya dari kiri ke kanan di pinggang, dibiarkan jatuh sampai sekitar betis. Ia mengikatnya sehingga kain berlebih jatuh ke depan membentuk lipatan hias yang disebut kancut. Lalu ia mengencangkan kamen dengan ikat pinggang dan mengenakan selendang wajib di atasnya, sering ditambah kain pinggul kedua.

Budaya Nusa Penida
Nusa Penida adalah bagian dari Bali, tetapi memiliki dialek Bali sendiri serta sejumlah tradisi budaya yang khas pulau ini.
Tari Baris Jangkang
Tari Baris Jangkang dari Nusa Penida adalah pertunjukan tradisional yang menggambarkan pasukan setan yang mengabdi pada Dalem Bungkut, raja terakhir Nusa Penida, dalam perang melawan raja Bali Waturenggong dari Gelgel. Para penari mengenakan busana tradisional Nusa Penida yang disebut kamben cepuk dan membawa tombak panjang.
Warisan budaya nasional
Tarian sakral ini masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Desa adat Pelilit kerap mementaskannya saat piodalan atau festival pura. Alat musik yang digunakan dalam tarian ini antara lain kempul, sepasang gamelan, petuk, simbal, dan dendeng.
Anda juga dapat menyaksikan Tari Baris Jangkang saat Festival Semarapura.
Penduduk Nusa Penida saat ini
Saat ini, Nusa Penida dihuni sekitar 50.000 hingga 60.000 penduduk, tersebar di desa-desa pesisir dan permukiman pedalaman. Secara administratif, pulau ini bagian dari Kabupaten Klungkung dan mencakup bukan hanya Nusa Penida, tetapi juga pulau-pulau terdekat seperti Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.
Sebagian besar penduduk lokal secara tradisional hidup dari menangkap ikan, budi daya rumput laut, dan bertani. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata menjadi sumber pendapatan utama, terutama dengan berkembangnya menyelam, snorkeling, dan wisata sehari dari Bali.
Ada pertanyaan?
Jika Anda punya pertanyaan tentang sejarah Nusa Penida atau budaya Bali, jangan ragu meninggalkan komentar atau mengirim pesan — saya senang membantu. Anda juga bisa menjelajahi panduan perjalanan lengkap Nusa Penida kami untuk informasi praktis tentang pulau ini dan semua yang Anda butuhkan untuk merencanakan kunjungan.

Nusa Penida Travel Guide
Plan your trip to Nusa Penida with our local expert guide: beaches, diving sites, hotels, transport tips, itineraries and seasonal advice.

Where to stay in Nusa Penida
How to choose where to stay in Nusa Penida among the 500 listed hotels. 5 stars, boutique hotel, glamping or charming bungalows?

Top 15 to see in Nusa Penida
After more than 10 years exploring Nusa Penida, I’ve updated my list of the 15 most incredible places to see on the island — from stunning beaches to dramatic cliffs.
FAQ – Sejarah & Budaya Nusa Penida
Apa arti Nusa?
“Nusa” berarti “pulau” dalam bahasa Indonesia dan bahasa Bali. Kata ini lazim digunakan dalam banyak nama tempat di seluruh Indonesia, termasuk Nusa Penida dan Nusa Lembongan.
Bagaimana sejarah Nusa Penida?
Nusa Penida secara historis digunakan sebagai tempat pengasingan oleh kerajaan-kerajaan Bali. Para penjahat dan orang buangan dikirim ke pulau ini, yang turut membentuk reputasinya sebagai tempat terpencil dan ditakuti.
Mengapa Nusa Penida dianggap berbahaya?
Pulau ini dianggap berbahaya karena keterpencilannya, kondisi hidup yang keras, dan kaitannya yang kuat dengan ilmu hitam dalam budaya Bali.
Apakah Nusa Penida dikaitkan dengan ilmu hitam?
Ya. Dalam kepercayaan Bali, Nusa Penida sangat erat dengan kekuatan spiritual dan ilmu hitam, serta berperan penting dalam ritual tradisional seperti ziarah ke Pura Dalem Ped.
Berapa jumlah penduduk Nusa Penida?
Nusa Penida dihuni sekitar 50.000 hingga 60.000 penduduk, yang sebagian besar tinggal di desa pesisir dan bekerja di sektor perikanan, pariwisata, dan budi daya rumput laut.
Apakah Nusa Penida masih dianggap berbahaya saat ini?
Kini Nusa Penida aman bagi wisatawan dan telah menjadi destinasi populer. Namun, reputasi sejarah dan spiritualnya tetap menjadi bagian dari identitasnya.
Tentang penulis
Blaise Jaeger tinggal di Nusa Penida sejak 2017, tempat ia membuka pusat selam PADI pertama di pulau ini. Selain menyelam, ia ikut serta langsung dalam kehidupan spiritual pulau ini — mengambil air suci di pura-puranya, menghadiri upacara, dan mempersembahkan sesajen harian yang menjadi bagian kehidupan di sini. Semua yang ada dalam panduan ini berdasarkan apa yang ia pelajari dan saksikan di pulau ini.