Collective Pitra Yadnya ceremony in Sebunibus with cremation towers and ceremonial parasols

Ngaben Massal 83 Sawa di Sebunibus, Nusa Penida (2026)

Ngaben sering disebut begitu saja sebagai upacara kremasi Bali. Yang saya saksikan di Sebunibus, Nusa Penida, pada Agustus 2026 jauh lebih dari sekadar kremasi. Selama dua hari saya mengikuti satu upacara massal yang melibatkan 83 warga desa yang telah meninggal: makam dibongkar, tulang diangkat dan dibersihkan sendiri oleh keluarga, sisa jasad diidentifikasi dengan cermat lalu diarak, dan tiga hari kemudian dimasukkan ke dalam petulangan berbentuk hewan sebelum pembakaran terakhir.

Desa sendiri memakai istilah yang lebih luas untuk acara ini. Pada payung upacara yang saya foto pada 7 Agustus tertulis “LPD Sebunibus — Upacara Pitra Yadnya — 7 Agustus 2026.” Pembedaan itu penting. Ngaben adalah tahap pembakaran di dalam rangkaian Pitra Yadnya yang lebih luas bagi almarhum dan leluhur.

Karena itu artikel ini sekaligus panduan tentang Ngaben dan catatan langsung tentang satu Pitra Yadnya massal di Sebunibus. Pembatas itu perlu ditegaskan: praktik ritual di Bali berbeda antardesa, antarkeluarga dan antarwilayah. Saya juga diberi tahu bahwa tahap ini bisa sangat berbeda di tempat lain di Bali. Di sebuah desa lain di Bali, misalnya, pembongkaran makam dilakukan secara simbolis dan tulangnya sendiri tidak digali. Sebaliknya di Sebunibus, pengangkatan dan pembersihan tulang secara fisik justru menjadi salah satu inti dari yang saya saksikan.

Apa itu Ngaben dalam rangkaian Pitra Yadnya?

Ngaben adalah nama yang paling dikenal untuk ritual kremasi Hindu Bali. Tujuannya bukan sekadar memperlakukan jasad. Dalam keyakinan Hindu Bali, kremasi membantu melepaskan atma dari ikatan materinya sehingga perjalanan ritual almarhum dapat berlanjut.

Portal warisan budaya Pemerintah Provinsi Bali secara eksplisit menempatkan Ngaben di dalam Pitra Yadnya, rangkaian upacara bagi almarhum dan leluhur. Penjelasan yang diterbitkan Bimas Hindu Kementerian Agama juga memaparkan Pitra Yadnya sebagai rangkaian yang lebih panjang, dengan Ngaben diikuti upacara penyucian dan peralihan menuju leluhur. Rujukan resmi itu dapat Anda baca di portal warisan budaya Bali dan di situs Kementerian Agama.

Ngaben atau Pitra Yadnya?

Bagi kebanyakan orang yang mencari informasi, “Ngaben” adalah kata kunci yang paling praktis karena itulah istilah yang paling lekat dengan kremasi Bali. Namun menyebut seluruh rangkaian di Sebunibus sekadar sebagai kremasi tidaklah lengkap. Warga desa menamainya secara tegas Upacara Pitra Yadnya, dan prosesnya berlanjut setelah api padam: ke laut, ke Pura Dalem Puri, Pura Besakih, Pura Goa Lawah dan akhirnya ke pura keluarga.

Payung LPD Sebunibus bertuliskan Upacara Pitra Yadnya – 7 Agustus 2026
Payung upacara itu sendiri menamai acaranya “Upacara Pitra Yadnya” lengkap dengan tanggalnya: 7 Agustus 2026.

Ritual Ngaben tidak sama di seluruh Bali

Inilah peringatan yang mungkin paling penting Anda ingat saat membaca panduan ini. Tidak ada satu rangkaian foto pun yang bisa disajikan sebagai cara baku berlangsungnya Ngaben di seluruh Bali.

Saya juga diberi tahu bahwa upacaranya bisa sangat berbeda di tempat lain di Bali. Perbedaan yang paling mencolok menyangkut makam: di Sebunibus keluarga benar-benar membongkar makam dan membersihkan tulang. Di sebuah desa lain di Bali, misalnya, tahap yang sama dijalankan secara simbolis, tanpa menggali tulangnya.

Karena itulah, sepanjang artikel ini, saya memakai ungkapan seperti “di Sebunibus” setiap kali menggambarkan praktik setempat: pembersihan dengan alang-alang, perlakuan terhadap makam yang telah dikosongkan, kantong bernomor, arak-arakan menuju petak, atau cara sisa jasad dipindahkan ke petulangan. Semua itu pengamatan langsung atas upacara di Nusa Penida ini, bukan aturan bagi setiap Ngaben di Bali.

Ngaben dan siklus kehidupan orang Bali

Untuk memahami mengapa Ngaben begitu penting, ada baiknya melihatnya di dalam sistem ritual Hindu Bali yang lebih luas. Lima kelompok besar yadnya lazim dikenal sebagai Panca Yadnya: Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Manusa Yadnya mengiringi tahap-tahap kehidupan manusia, dari masa kandungan dan kelahiran, masa kanak-kanak, akil balig, potong gigi hingga pernikahan. Literatur akademik tentang ritual Bali menyebut 13 upacara Manusa Yadnya yang menandai tahap kehidupan manusia, meski penamaan, pengelompokan dan praktiknya bisa berbeda-beda. Sebuah studi etnobotani bertelaah sejawat tentang sarana upacara di Bali juga mengidentifikasi 13 upacara di dalam Manusa Yadnya. Pitra Yadnya kemudian menyangkut kewajiban kepada almarhum dan leluhur. Dalam pengertian itu, Ngaben bukan tontonan yang berdiri sendiri: ia bagian dari pemahaman ritual yang jauh lebih panjang tentang hidup, kematian, penyucian dan keleluhuran.

Hal inilah yang dulu paling membantu saya ketika melihat pemaparannya secara visual di Samsara Living Museum di Bali: hidup orang Bali diiringi upacara sejak sebelum lahir sampai sesudah meninggal. Ngaben baru sepenuhnya masuk akal bila dilihat dalam kesinambungan itu. Untuk tinjauan akademik atas lima kelompok Yadnya dan 13 upacara Manusa Yadnya, lihat studi bertelaah sejawat tentang sarana upacara di Bali ini.

Mengapa saya hadir di Pitra Yadnya Sebunibus

Saya tidak datang ke Sebunibus sekadar karena mendengar ada kremasi besar. Upacara itu menyangkut orang-orang yang bekerja bersama saya di Nusa Penida: enam anggota tim Adiwana Warnakali dan satu anggota tim Dune Penida memiliki kerabat yang termasuk dalam 83 sawa.

Saya hadir terutama sebagai bentuk penghormatan kepada mereka dan keluarganya. Pak Alit, manajer asal Bali di Adiwana Warnakali, menemani saya dan membantu saya memahami apa yang sedang berlangsung. Kami bertemu pukul 06.00 pada 4 Agustus agar ia dapat membantu saya berbusana adat Bali dengan pantas, termasuk mengenakan kamen, sebelum kami berangkat ke pemakaman. Kecuali disebutkan lain, penjelasan setempat tentang ritual Sebunibus dalam artikel ini berasal dari pembicaraan rinci yang kami lakukan seusai upacara, sedangkan gambaran kejadian dan waktunya berasal dari apa yang saya saksikan dan catat sendiri.

Blaise Jaeger bersama warga Sebunibus saat upacara Ngaben 2026
Saya mengikuti dua tahap utama upacara Sebunibus pada 4 dan 7 Agustus 2026, ditemani manajer asal Bali dari Adiwana Warnakali.

Seusai upacara, saya menghabiskan sekitar dua jam menelusuri kembali catatan dan pertanyaan saya bersamanya. Kronologi rinci di bawah ini menggabungkan apa yang saya lihat sendiri dengan penjelasan setempat tersebut. Bila yang saya tuliskan adalah kesan pribadi, saya menyebutkannya, dan saya menghindari menyajikan praktik Sebunibus sebagai aturan umum Bali.

Bagaimana Ngaben massal diselenggarakan di Sebunibus

Upacara di Sebunibus melibatkan 83 sawa, menurut jumlah yang disampaikan kepada saya di lapangan. Saya memakai istilah sawa di sini untuk almarhum dan sisa jasad yang mengikuti rangkaian ritual, alih-alih memaksakan satu padanan tunggal pada setiap tahap. Pengumuman Pemkab Klungkung mengonfirmasi secara terpisah adanya Pitra Yadnya massal di Sebunibus dan puncaknya pada 7 Agustus, tetapi tidak mencantumkan jumlah sawa desa tersebut.

Ngaben massal sudah mapan di Nusa Penida maupun di tempat lain di Bali, sementara keluarga dan komunitas lain bisa menyelenggarakan kremasi dengan cara berbeda, termasuk upacara perorangan. Menyelenggarakannya secara massal memungkinkan keluarga berbagi biaya besar dan sumber daya komunitas. Jaraknya tidak tetap: di Sebunibus, hal itu bergantung pada keputusan desa adat, bukan aturan otomatis lima tahun sekali.

Tanggalnya ditentukan jauh hari. Di Sebunibus, Pengurus Desa Adat Sebunibus bekerja bersama Ratu Pedanda dan memakai kombinasi dalam kalender Bali, termasuk Sapta Wara, Panca Wara, Wuku dan Tri Wara, untuk menetapkan hari yang tepat.

Untuk upacara yang satu ini bahkan tersedia dokumentasi resmi yang luar biasa rinci. Pada 4 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Klungkung menerbitkan pengumuman yang menyebut Desa Adat Sebunibus di antara komunitas Nusa Penida yang menerima bantuan untuk “Pitra Yadnya (Ngaben Massal)”. Pengumuman itu mencatat bantuan Rp150 juta untuk Sebunibus dan menyatakan bahwa puncak upacara dijadwalkan pada 7 Agustus 2026 — sekaligus mengonfirmasi secara independen nama desa dan tanggal yang terbaca pada foto-foto saya. Pengumuman yang sama menjelaskan bahwa skema bantuan kabupaten dihitung Rp5 juta per sawa, dengan batas maksimal Rp150 juta per desa adat atau kelompok. Lihat pengumuman resmi Pemkab Klungkung.

Mengapa sebagian almarhum dikubur dulu sebelum Ngaben?

Salah satu salah kaprah terbesar adalah anggapan bahwa setiap orang Bali langsung dikremasi setelah meninggal. Di Sebunibus, banyak almarhum dikubur lebih dulu dan bisa tetap berada di pemakaman sampai ada upacara massal. Biaya adalah sebagian dari penjelasannya, karena keluarga perlu waktu untuk bersiap menghadapi ritual bersama yang besar, tetapi masa penantian itu juga dijelaskan kepada saya dalam kerangka spiritual, sebagai bagian dari perjalanan dan penyucian atma.

Dalam Ngaben massal di Sebunibus, seluruh makam di pemakaman dibongkar dan dikosongkan. Pemakaman harus bersih. Artinya, ketika upacara berlangsung, keikutsertaan bukanlah pilihan bagi almarhum yang masih terkubur di sana — dan itulah sebabnya tanggal upacara penting bagi semua keluarga di desa sekaligus, bukan hanya bagi mereka yang baru saja kehilangan.

Hal ini menimbulkan persoalan praktis bila ada yang meninggal dalam dua belas bulan menjelang jadwal Ngaben: jasadnya bisa jadi belum sempat terurai sempurna. Dalam kasus seperti itu, jasad dikremasi tidak lama setelah meninggal dan abunya dilarung ke laut dengan upacara yang lebih sederhana — atau ke sungai, bila komunitasnya jauh dari pantai. Yang bersangkutan tidak lantas tertinggal dari ritual bersama: ia bergabung kembali pada upacara Ngulapin yang dijelaskan di bawah.

4 Agustus 2026: pembongkaran makam dan penyiapan sisa jasad

Ketika kami tiba tak lama setelah pukul 06.00, desa sudah sibuk. Sebelum mencapai pemakaman, kami melewati menara-menara upacara besar yang akan dipakai pada tahap berikutnya.

Menara kremasi Bali yang disiapkan di Sebunibus sebelum Ngaben massal
Menara upacara yang disiapkan di Sebunibus sebelum Ngaben massal, 4 Agustus 2026.

Di belakang pemakaman, anggota Pengurus Desa Adat Sebunibus dan pecalang mengatur jalannya acara. Arahan disampaikan bertahap lewat pengeras suara. Makam-makam diupacarai, dan rombongan berkeliling pemakaman sambil menabuh serta memukul-mukul tanah. Hal itu dijelaskan kepada saya sebagai cara memberitahukan kepada sawa bahwa saatnya telah tiba dan mereka akan segera diangkat dari makam.

Keluarga berkumpul di sekitar makam di pemakaman Sebunibus sebelum pembongkaran dimulai
Keluarga berkumpul di pemakaman Sebunibus pada pagi buta, menunggu aba-aba untuk mulai membongkar makam.

Sekitar pukul 07.00: makam dibuka

Sekitar pukul 07.00, aba-aba diberikan dan keluarga menuju makam masing-masing. Pada keluarga-keluarga yang saya amati, penggalian sebagian besar dikerjakan kaum laki-laki. Mereka menggali turun menembus tanah sampai kain kafan bisa dipisahkan.

Anggota keluarga menggali makam saat Ngaben massal di Sebunibus
Setelah aba-aba diberikan kepada warga, keluarga mulai membongkar makam kerabatnya.

Sisa jasad yang terbungkus kain kafan lalu diangkat dengan hati-hati oleh keluarga. Ini bukan pekerjaan yang diserahkan kepada petugas pemakaman. Keluarga sendiri yang turun tangan.

Anggota keluarga mengangkat sisa jasad terbungkus kain kafan dari makam di Sebunibus
Sisa jasad yang terbungkus kain kafan diangkat dari makam dengan hati-hati oleh anggota keluarga.

Apa yang terjadi pada makam yang telah kosong?

Setelah sisa jasad diangkat, saya melihat sebutir kelapa, sesajen dan seekor ayam hidup diletakkan di dalam makam. Pak Alit kemudian menjelaskan bahwa ayam itu, seperti juga bahan dari pohon pisang yang dipakai pada tahap ini, berdiri sebagai pengganti simbolis bagi jasad yang baru saja diangkat. Saya melihat beberapa ayam keluar sendiri dari makam, sementara pada kasus lain anggota keluarga melemparkan ayamnya ke udara agar bisa terbang keluar.

Kelapa dan sesajen di dalam makam yang telah dikosongkan saat Ngaben
Kelapa dan sesajen di dalam makam yang telah dikosongkan. Seekor ayam hidup juga diletakkan di dalam makam dan keluar sebelum tanahnya diurug kembali.

Membersihkan tulang: perhatian keluarga kepada almarhum

Inilah bagian upacara yang paling membekas bagi saya, sebagian karena jarang sekali digambarkan secara rinci. Begitu sisa jasad terangkat, kerabat berkumpul mengelilinginya dan mulai membersihkan tulang.

Anggota keluarga berkumpul di sekitar tulang yang baru diangkat saat pembongkaran makam Ngaben di Sebunibus
Setelah diangkat, tulang dikumpulkan agar keluarga bisa mulai membersihkannya dengan cermat.

Laki-laki dan perempuan sama-sama terlibat. Saya diberi tahu bahwa seluruh anggota keluarga sebaiknya ikut serta sebagai bentuk penghormatan.

Anggota keluarga membersihkan tulang dengan air dan alang-alang saat Ngaben di Sebunibus
Di Sebunibus, anggota keluarga membersihkan tulang dengan air, sabun dan alang-alang, memperlakukan sisa jasad dengan cermat dan penuh hormat.

Mengapa alang-alang, air dan sabun?

Semula saya mengira alang-alang itu sendiri punya makna sakral. Saya diberi tahu bahwa, dalam konteks ini di Sebunibus, tidak demikian. Alang-alang dipakai secara praktis untuk melepaskan tanah dan debu. Bersama air dan sabun, prosesnya digambarkan kepada saya hampir seperti memandikan jasadnya sendiri.

Tulang yang telah dibersihkan dikumpulkan dalam bakul anyaman saat Ngaben Sebunibus
Tulang yang telah dibersihkan dikumpulkan sebelum dimasukkan ke dalam kantong bernomor yang menandai identitas almarhum.

Tidak ada urutan khusus dalam mengangkat tulang, menurut penjelasan setempat yang saya terima. Yang penting adalah sisa jasad setiap almarhum tetap teridentifikasi. Begitu pembersihan selesai, semuanya dikumpulkan dan disiapkan untuk tahap berikutnya.

Keluarga menyiapkan sisa jasad yang telah dibersihkan setelah pembongkaran makam di Sebunibus
Di Sebunibus, menyiapkan sisa jasad yang telah dibersihkan adalah tanggung jawab keluarga bersama dan bentuk penghormatan penting kepada almarhum.

Bagaimana bila jasad belum terurai sempurna?

Saya diberi tahu bahwa sisa jasad dianggap cukup terurai bila yang tersisa hanya tulang. Bila masih ada jaringan, sisa jasad dibakar terpisah sebelum ritual bersama dilanjutkan.

Di antara 83 sawa di Sebunibus, saya hanya melihat satu kasus dengan penguraian yang belum tuntas, meski almarhum telah dikubur lebih dari setahun. Sisa jasad yang terbungkus kain kafan dipindahkan ke tepi pemakaman dan dikremasi terpisah sebelum ritual bersama dilanjutkan.

Sisa jasad terbungkus kain kafan disiapkan untuk kremasi terpisah di tepi pemakaman Sebunibus
Bila sisa jasad belum terurai sempurna di Sebunibus, jasad dikremasi terpisah sebelum menyusul ke tahap berikutnya dalam ritual bersama.

Kantong bernomor, payung dan arak-arakan menuju petak

Setelah bersih, tulang dimasukkan ke dalam kantong bernomor. Alasannya praktis sekaligus mendasar: dengan 83 almarhum yang diupacarai, setiap sisa jasad harus tetap teridentifikasi dengan benar.

Keluarga lalu menunggu bersama di tempat teduh sampai semua siap. Menyaksikan mereka, saya terkesan betapa berbedanya suasana itu dari suasana pemakaman Barat yang secara naluriah mungkin saya bayangkan. Ada momen khidmat dan penuh haru, tetapi ada pula percakapan, penantian, interaksi keluarga dan sesekali senyum. Kesan saya, sebagian kerabat bisa merasakan kesedihan saat kenangan kembali muncul sekaligus kelegaan karena almarhum kini dapat melanjutkan ke tahap ritual berikutnya. Itu pengamatan saya atas pagi itu di Sebunibus, bukan klaim tentang bagaimana setiap keluarga Bali menghayati kematian.

Anggota keluarga menunggu bersama saat persiapan Ngaben di Sebunibus
Keluarga menunggu bersama setelah menyiapkan sisa jasad, sebelum arak-arakan menuju bangunan ritual sementara.

Ketika arak-arakan dimulai, seorang anggota keluarga membawa sisa jasad sementara yang lain memayunginya. Payung itu dijelaskan kepada saya sebagai pelindung atma dari matahari. Tanggung jawabnya tetap berada di tangan keluarga.

Anggota keluarga membawa sisa jasad terbungkus di bawah payung upacara saat Ngaben
Seorang anggota keluarga membawa sisa jasad sementara yang lain memayunginya; menurut penjelasan yang saya terima, payung itu melindungi atma dari matahari.
Keluarga membentuk arak-arakan sambil membawa sisa jasad kerabat mereka
Keluarga membentuk dua barisan untuk membawa sisa jasad yang telah disiapkan menuju petak.

Kantong-kantong itu dibawa ke petak, bangunan ritual sementara yang digambarkan kepada saya mirip tenda. Ia bukan bangunan permanen: setelahnya dibongkar, dengan ritual penyuciannya sendiri.

Sebelum pagi berakhir, para penari tampil di hadapan warga yang berkumpul. Sekitar pukul 09.30, rangkaian utama yang saya ikuti pagi itu selesai dan orang-orang mulai pulang.

Penari tradisional tampil saat Ngaben massal di Sebunibus
Para penari tampil saat pagi pertama upacara massal ini menjelang usai.

7 Agustus 2026: kremasi massal

Tiga hari kemudian saya kembali ke Sebunibus. Suasananya berubah total. Pagi pertama didominasi tanah, makam, tulang dan gerak-gerik keluarga yang intim. Pada 7 Agustus, arenanya dipenuhi bangunan upacara menjulang, payung merah menyala, hewan-hewan berhias dan nuansa tontonan publik yang jauh lebih besar.

Sekitar pukul 10.30, menara-menara sudah berdiri di tempatnya dan kantong-kantong bernomor berada di dalamnya. Saya mendengar menara setempat ini disebut Bale Page, dengan beberapa tumpang atau tingkatan. Saya mempertahankan istilah itu sebagaimana disampaikan kepada saya di Sebunibus, bukan menyajikannya sebagai istilah baku di seluruh Bali.

Menara kremasi berisi kantong bernomor pada 7 Agustus 2026 di Sebunibus
Pada 7 Agustus, kantong bernomor berisi sisa jasad yang telah disiapkan menunggu tahap akhir upacara massal.

Petulangan: bangunan kremasi berbentuk hewan

Tidak jauh dari situ berdiri bangunan yang benar-benar akan dibakar: petulangan. Bangunan kremasi berbentuk hewan ini dibuat sangat rinci dari bahan ringan yang mudah terbakar, termasuk kayu dan elemen hias berbahan kertas.

Petulangan berhias berbentuk hewan disiapkan untuk kremasi di Sebunibus
Petulangan — bangunan kremasi berbentuk hewan yang berhias — menunggu keluarga dan sisa jasad almarhum.

Lembu, Singa dan Macan

Beberapa bentuk disebutkan kepada saya dalam kosakata ritual setempat: Lembu, Singa dan Macan. Pemilihan hewannya dikaitkan dengan soroh keluarga, meski praktiknya tidak sama di semua tempat.

Beberapa keluarga bisa berbagi satu petulangan, sehingga biaya upacara terbagi. Saya juga memperhatikan dua di antara hewan-hewan itu menghadap arah yang berlawanan dari yang lain. Saya menanyakannya karena tampak disengaja, tetapi tidak ada satu pun narasumber saya yang bisa memberi penjelasan ritualnya. Daripada mengarang simbolisme yang tidak terkonfirmasi, saya mencatatnya semata sebagai sesuatu yang saya amati.

Petulangan lembu berhias yang dipakai untuk Ngaben massal di Sebunibus
Petulangan berbentuk lembu di Sebunibus. Saya diberi tahu bahwa bentuknya bisa dikaitkan dengan soroh almarhum, dan beberapa keluarga dapat berbagi satu bangunan.

Warga Pande dan busana merah

Merah menjadi salah satu warna yang mendominasi sebagian upacara. Saya diberi tahu bahwa banyak orang yang berbusana merah berasal dari soroh Pande, yang secara tradisional dikaitkan dengan pandai besi, dan bahwa warna merah di sini dihubungkan dengan Brahma. Saya tidak akan mengubah penjelasan setempat itu menjadi aturan bahwa “warga Pande berbusana merah saat Ngaben”: yang bisa saya dokumentasikan adalah apa yang saya lihat di Sebunibus dan bagaimana hal itu dijelaskan kepada saya di sana.

Menurunkan sawa dan mengembalikannya kepada tiap keluarga

Sekitar pukul 11.45, menara-menara menjadi pusat kegiatan. Sejumlah laki-laki yang ditugaskan memanjat dan mulai menurunkan sisa jasad bernomor. Di satu menara saya mendengar almarhum dipanggil dengan namanya; di dua menara lain, nomornya yang diumumkan agar keluarga dapat mengenali dan mengambil bungkusan yang tepat.

Sejumlah laki-laki menurunkan sisa jasad terbungkus dari menara kremasi saat Ngaben Sebunibus
Sisa jasad bernomor diturunkan dari menara agar setiap keluarga dapat mengambil milik kerabatnya.

Keluarga lalu membawa sisa jasad menjauh dari menara. Momen itu langsung membuat tujuan sistem penomoran sejak 4 Agustus terlihat jelas: setelah tiga hari, dan di dalam upacara yang melibatkan 83 almarhum, setiap keluarga harus mendapatkan sisa jasad yang benar-benar tepat.

Anggota keluarga membawa sisa jasad terbungkus setelah diturunkan dari menara upacara saat Ngaben Sebunibus
Setelah sisa jasad bernomor diturunkan dari menara upacara, setiap keluarga mengambil milik kerabatnya sebelum memasukkannya ke dalam petulangan.

Kira-kira dari pukul 12.00 sampai 12.40, keluarga memasang sisa jasad di dalam petulangan masing-masing dan merampungkan persiapan kremasi.

Keluarga berkumpul di sekitar petulangan sesaat sebelum kremasi massal di Sebunibus
Sesaat sebelum api dinyalakan, keluarga berkumpul di sekitar petulangan yang berisi sisa jasad kerabat mereka.

Pukul 12.42: pembakaran dimulai

Sekitar pukul 12.42, aba-aba diberikan lewat pengeras suara. Laki-laki berkemeja putih menyebar di sepanjang barisan petulangan, dan saya diberi tahu bahwa satu perwakilan menyalakan api untuk setiap hewan. Saya mendengar tepuk tangan ketika api mulai membesar.

Perubahannya luar biasa cepat. Bangunan berhias itu tampak kokoh, tetapi memang dibuat untuk terbakar. Hanya dalam beberapa menit, api telah melalap seluruh barisan petulangan. Sekitar pukul 12.46, panasnya menjadi begitu hebat sehingga semua orang di sekitar saya mundur dengan cepat.

Barisan petulangan dilalap api saat kremasi Ngaben massal di Sebunibus
Hanya beberapa menit setelah aba-aba penyalaan, barisan petulangan dilalap api dan panasnya yang hebat memaksa kerumunan mundur.

Video berdurasi 54 detik ini memperlihatkan betapa cepatnya tahap pembakaran terakhir berlangsung di Sebunibus.

Dari dekat, kecepatan prosesnya bahkan lebih kentara. Hewan berhias itu hanya sebentar masih bisa dikenali sebelum api melahap seluruh bangunannya.

Petulangan berbentuk lembu dilalap api saat kremasi Bali
Sebuah petulangan lembu terbakar saat kremasi massal. Bangunan berhias itu lenyap dengan sangat cepat dalam api yang hebat.

Sekitar pukul 12.48, banyak orang sudah meninggalkan area kremasi. Bagian Ngaben yang paling dramatis secara visual usai nyaris secepat ia dimulai.

Apa yang terjadi setelah api padam?

Mudah saja mengira upacara berakhir ketika bangunannya habis terbakar. Di Sebunibus, anggapan itu sama sekali keliru.

Setelah api padam, saya diberi tahu bahwa keluarga mengumpulkan kembali sisa tulang berwarna putih dan menghaluskannya lebih lanjut. Rangkaian ritualnya lalu beranjak dari sawa menuju puspa. Sisa tulang atau abunya kemudian diletakkan bersama sebutir kelapa dan dibawa ke laut. Beberapa hari kemudian, sebelum warga berangkat ke Pura Besakih, ada upacara bernama Ngulapin: atma dipanggil kembali dari laut untuk menyatu lagi dengan puspa. Setiap keluarga memanggil kerabatnya sendiri ke puspa miliknya sendiri.

Dalam rangkaian Sebunibus yang dijelaskan kepada saya, tahap besar berikutnya berlangsung 12 hari setelah Ngaben, di Pura Dalem Puri yang berada di dalam kompleks Pura Besakih, sesuai soroh keluarga — Pande, Pasek dan Bujanga disebutkan sebagai contoh — lalu berlanjut ke Pura Goa Lawah dan akhirnya kembali ke pura keluarga.

Karena itulah api tidak semestinya dianggap sebagai “akhir” cerita. Bagi keluarga, tujuannya bukan menyaksikan sesuatu terbakar; tujuannya adalah membantu almarhum melanjutkan peralihan spiritualnya dan pada akhirnya menempati kedudukannya di antara leluhur yang berstana di pura keluarga.

Mengapa Ngaben penting secara spiritual

Inti penjelasan setempat yang saya terima bukanlah menara, bukan api, bukan pula pemandangan pembongkaran makam yang tidak biasa. Intinya adalah bahwa Ngaben membantu almarhum melanjutkan proses pelepasan dan penyucian yang pada akhirnya mengantar ke kedudukan sebagai leluhur di pura keluarga.

Penjelasan itu mengubah cara saya membaca dua hari yang baru saja saya potret. Pada 4 Agustus, kerabat tidak sedang “mengganggu” makam dalam pengertian Barat. Mereka sedang merawat anggota keluarganya melalui satu tahap lain yang memang diperlukan dalam perjalanan ritual yang jauh lebih panjang. Pada 7 Agustus, api bukan penghancuran demi penghancuran; ia adalah perubahan wujud.

Etika bagi pengunjung yang menyaksikan Ngaben

Saya diberi tahu bahwa pengunjung dari luar diterima dengan baik selama mereka bersikap hormat. Itu tidak berarti setiap upacara boleh diperlakukan sebagai atraksi wisata yang terbuka. Ngaben pertama-tama adalah ritual keagamaan keluarga dan warga desa.

  • Tanyakan dulu kepada warga sebelum memasuki area yang sensitif. Bila Anda menginap di dekat lokasi, pihak hotel, tuan rumah atau pemandu biasanya bisa memberi tahu apa yang pantas.
  • Berbusana pantas. Saya hadir dengan busana adat Bali lengkap dengan kamen karena ditemani seorang warga Bali dari komunitas setempat dan datang terutama untuk menghormati orang-orang yang saya kenal di sana.
  • Ikuti isyarat dari warga. Jangan menghalangi arak-arakan, berdiri di antara keluarga dan jalannya ritual, atau mendesak maju demi sebuah foto.
  • Memotret tidak otomatis tabu. Di Sebunibus, warga sendiri banyak memotret dan merekam, dan desa membagikan materinya secara terbuka. Tetapi itu tidak menciptakan izin universal untuk setiap upacara atau setiap momen yang intim.
  • Jangan mengatur adegan atau membuatnya sensasional. Sisa jasad yang telah diangkat bisa terlihat. Bagi keluarga, itu kerabat mereka, bukan properti untuk foto “Bali yang mengejutkan”.
  • Terimalah bahwa Anda mungkin tidak memahami semuanya. Bahkan ketika saya bertanya soal detail — misalnya mengapa dua petulangan menghadap arah berlawanan — jawaban yang jujur kadang memang bahwa tidak ada narasumber saya yang tahu maknanya.

Bila Anda sedang menyusun rencana perjalanan seputar hari raya dan upacara setempat, Anda juga bisa membaca panduan saya yang lebih luas tentang perayaan dan upacara adat di Bali dan Nusa Penida.

Ngaben juga bisa memengaruhi perjalanan ke Nusa Penida

Upacara seperti ini tidak terbatas di halaman pura; dampaknya bisa terasa dalam keseharian satu desa. Pada hari yang sama dengan kremasi Sebunibus, 7 Agustus 2026, ada Ngaben lain di Banjar Nyuh. Pelabuhan di sana ditutup untuk upacara, dan operator fast boat harus mengubah pengaturan naik dan turun penumpang. Upacara lain berlangsung pada 20 Agustus untuk Desa Sakti.

Bila Anda bepergian ke Nusa Penida saat ada upacara besar, sediakan sedikit kelonggaran waktu. Jalan, akses pelabuhan atau lalu lintas bisa berubah untuk sementara. Panduan saya tentang cara ke Nusa Penida dari Bali memuat informasi praktis terkini tentang kapal dan titik kedatangan.

Kronologi Ngaben Sebunibus: 4 dan 7 Agustus 2026

4 Agu, 06.00Saya bertemu manajer asal Bali yang menemani saya, mengenakan busana adat Bali, lalu berangkat ke pemakaman Sebunibus.
Pagi butaMakam diupacarai; arahan disampaikan; sawa diberi tahu secara ritual bahwa pembongkaran akan segera dimulai.
~07.00Keluarga membongkar makam dan mengangkat sisa jasad yang terbungkus kain kafan.
Sepanjang pagiTulang dibersihkan dengan air, sabun dan alang-alang, lalu dimasukkan ke kantong bernomor.
Menjelang siangKeluarga membawa sisa jasad di bawah payung dalam arak-arakan menuju petak.
~09.30Tarian menutup rangkaian utama yang saya ikuti dan kerumunan membubarkan diri.
7 Agu, ~10.30Menara dan petulangan siap; sisa jasad bernomor berada di dalam menara.
~11.45Petugas yang ditunjuk menurunkan sisa jasad dan keluarga mengambilnya berdasarkan nama atau nomor.
12.00–12.40Keluarga memasukkan sisa jasad ke dalam petulangan.
12.42Aba-aba diberikan untuk menyalakan api kremasi.
~12.46Api menjadi sangat hebat dan kerumunan mundur.
~12.48Banyak peserta mulai meninggalkan area kremasi.
Hari yang samaSisa tulang berwarna putih dikumpulkan dan dihaluskan lebih lanjut; ritual berlanjut ke laut.
12 hari kemudianTahap besar berikutnya berlangsung di Pura Besakih, lalu Pura Goa Lawah dan akhirnya kembali ke pura keluarga.

Pertanyaan umum tentang Ngaben

Apakah Ngaben sama dengan Pitra Yadnya?

Tidak — tetapi keduanya juga bukan dua hal yang terpisah: Ngaben adalah bagian dari Upacara Pitra Yadnya. Ngaben adalah ritual kremasi yang namanya paling dikenal, sedangkan Pitra Yadnya adalah kategori yang lebih luas untuk upacara bagi almarhum dan leluhur. Di Sebunibus, warga sendiri menamai acara Agustus 2026 itu “Upacara Pitra Yadnya”.

Apakah semua orang Bali langsung dikremasi setelah meninggal?

Tidak. Praktiknya berbeda-beda. Di Sebunibus, banyak almarhum dikubur lebih dulu sampai warga menyelenggarakan upacara massal. Di tempat lain, keluarga bisa menempuh pengaturan yang berbeda, termasuk Ngaben perorangan atau bentuk pembongkaran makam yang simbolis.

Mengapa tulang dibongkar dan dibersihkan di Sebunibus?

Keluarga mengangkat sisa jasad sebagai bagian dari persiapan kremasi massal. Di Sebunibus saya menyaksikan kerabat membersihkan tulang dengan air, sabun dan alang-alang sebelum memasukkannya ke kantong bernomor. Pembongkaran makam secara fisik ini adalah praktik setempat di Sebunibus; saya secara khusus diberi tahu bahwa di sebuah desa lain di Bali tahap yang setara dilakukan secara simbolis dan tulangnya sendiri tidak digali.

Apa itu petulangan?

Petulangan adalah bangunan berhias berbentuk hewan tempat sisa jasad yang telah disiapkan diletakkan untuk dibakar. Di Sebunibus saya melihat bentuk Lembu, sementara Singa dan Macan juga disebutkan kepada saya dalam kosakata ritual setempat. Di Sebunibus, saya diberi tahu bahwa bentuknya bisa dikaitkan dengan soroh dan beberapa keluarga dapat berbagi satu bangunan.

Mengapa bangunan kremasi terbakar begitu cepat?

Petulangan sangat berhias, tetapi sebagian besar dibangun dari bahan yang mudah terbakar seperti kayu dan elemen hias berbahan kertas. Di Sebunibus, perubahan dari penyalaan api menjadi dinding api raksasa hanya butuh beberapa menit.

Bagaimana etika memotret Ngaben bagi pengunjung?

Tidak ada aturan boleh atau tidak boleh yang berlaku universal dan bisa diterapkan begitu saja. Di Sebunibus, warga sendiri terbuka memotret dan merekam upacara, tetapi pengunjung tetap sebaiknya bertanya atau mengikuti arahan setempat, menghindari close-up yang mengganggu, dan tidak pernah menyela jalannya ritual sebuah keluarga.

Apakah upacara berakhir dengan kremasi?

Tidak. Dalam rangkaian Sebunibus yang dijelaskan kepada saya, sisa jasad berlanjut melalui ritual yang melibatkan laut, lalu satu tahap di Pura Besakih 12 hari kemudian, Pura Goa Lawah dan akhirnya pura keluarga. Api memang dramatis secara visual, tetapi secara spiritual ia hanya satu bagian dari proses yang jauh lebih panjang.

Yang saya bawa pulang dari upacara Sebunibus

Gambaran yang paling melekat pada Ngaben bagi kebanyakan orang adalah api. Setelah dua pagi di Sebunibus, itu bukan lagi gambaran yang menentukan makna upacara ini bagi saya.

Saya mengingat keluarga-keluarga yang berlutut di tanah, membasuh tulang kerabat mereka dengan air, sabun dan segenggam alang-alang. Saya mengingat bungkusan bernomor yang didekap erat di bawah payung. Saya mengingat betapa telitinya setiap keluarga mengambil sisa jasad yang tepat tiga hari kemudian. Dan baru pada akhirnya, saya mengingat dinding panas yang tiba-tiba ketika petulangan lenyap dalam api.

Dilihat dari luar, Ngaben bisa tampak spektakuler. Dilihat dari cukup dekat untuk memahami apa yang sedang dilakukan keluarga, ia terutama adalah tindakan kesinambungan, kewajiban dan perhatian kepada almarhum.

Itu pula sebabnya saya berusaha cermat tentang batas-batas artikel ini. Ini bukan “bagaimana setiap Ngaben di Bali berlangsung”. Ini kisah tentang Pitra Yadnya massal yang saya saksikan di Sebunibus, Nusa Penida, pada 4 dan 7 Agustus 2026, dijelaskan kepada saya oleh seseorang yang ikut serta di komunitas setempat dan desanya sendiri menjalankan praktik ritual yang berbeda. Bagi saya, perbedaan itu justru membuat upacara ini lebih menarik, bukan sebaliknya: tradisi Bali hidup justru karena diemban komunitas yang nyata, bukan direproduksi dari satu naskah tunggal.

Seluruh foto dalam artikel ini diambil selama Pitra Yadnya Sebunibus pada Agustus 2026. Saya mendokumentasikan tahap-tahap yang saya saksikan sendiri dan memeriksa ulang urutan serta penjelasan setempat bersama manajer asal Bali yang menemani saya sebelum menyusun panduan ini. Istilah dan konteks yang lebih luas kemudian diperiksa terhadap sumber dari Pemerintah Provinsi Bali, Kementerian Agama, Pemerintah Kabupaten Klungkung dan literatur akademik. Praktik setempat di Sebunibus ditandai sebagai praktik setempat, bukan disajikan sebagai aturan umum bagi Bali.

Scroll to Top