{"id":4623,"date":"2024-11-24T09:36:15","date_gmt":"2024-11-24T08:36:15","guid":{"rendered":"https:\/\/nusapenida.org\/?p=4623"},"modified":"2026-04-05T10:20:43","modified_gmt":"2026-04-05T02:20:43","slug":"budaya-sejarah-nusa-penida-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/budaya-sejarah-nusa-penida-bali\/","title":{"rendered":"Budaya &#038; Sejarah Nusa Penida dan Bali"},"content":{"rendered":"\n<p>Sejarah pulau <a href=\"https:\/\/nusapenida.org\/id\/selamat-datang-di-nusa-penida\/\">Nusa Penida<\/a> di Bali dimulai pada abad ke-10. Tulisan-tulisan paling awal tentang Nusa Penida memang telah ditemukan di Pilar Belanjong, yang berasal dari <strong>tahun 914 M<\/strong>. Pilar ini memuat prasasti yang menyebutkan ekspedisi militer Raja Bali pertama, Sri Kesari Warmadewa, menaklukan Nusa Penida.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-sejarah-nusa-penida-sampai-kedatangan-belanda\">Sejarah Nusa Penida sampai kedatangan Belanda<\/h2>\n\n\n\n<p>Masyarakat Nusa Penida sudah lama mampu melawan raja-raja Bali yang banyak mengorganisir ekspedisi militer lainnya. Namun, pada paruh kedua abad ke-17, pulau Nusa Penida pasti ditaklukkan oleh ekspedisi Dinasti Gelgel. Raja terakhir Nusa Penida, Dalem Bungkut, tewas dalam pertempuran.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone wp-image-2366 size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"1023\" height=\"612\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg\" alt=\"Peta Sejarah Kerajaan Nusa Penida Bali\" class=\"wp-image-2366\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg 1023w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900-300x179.jpg 300w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900-768x459.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1023px) 100vw, 1023px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">7 Kerajaan Bali pada tahun 1900<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Nusa Penida di Masa Kolonial dan Setelahnya<\/p>\n\n\n\n<p>Nusa Penida kemudian menjadi bagian dari <strong>Kerajaan Klungkung<\/strong>, salah satu dari sembilan kerajaan di Bali. Setelah Bali diintegrasikan ke dalam <strong>Hindia Belanda pada tahun 1908<\/strong>\u2014dan kemudian menjadi bagian dari Indonesia\u2014Nusa Penida tetap berada di bawah wilayah administratif <strong>Kabupaten Klungkung<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah <strong>peta Belanda tahun 1900<\/strong> menyebut Nusa Penida sebagai <em>Pulau Bandit<\/em>. Mengapa demikian? Karena pada masa itu, Kerajaan Klungkung sering mendeportasi <strong>penjahat, lawan politik, dan para ahli ilmu hitam<\/strong> ke pulau ini. Dari sinilah kemungkinan muncul reputasi buruk Nusa Penida, yang juga melahirkan berbagai legenda seputar sejarahnya. Bagaimanapun, citra negatif tersebut membuat pulau ini lama luput dari pariwisata.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Apa Arti Nusa Penida?<\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam bahasa Bali, <em>nusa<\/em> berarti \u201cpulau\u201d dan <em>penida<\/em> berarti \u201cpendeta\u201d. Jadi, <strong>Nusa Penida secara harfiah berarti Pulau Pendeta<\/strong>\u2014tentu jauh lebih baik daripada sebutan <em>Pulau Bandit<\/em> yang diberikan Belanda pada tahun 1900!<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Nusa Penida dalam Budaya Populer<\/h3>\n\n\n\n<p>Reputasi penuh misteri dan nuansa petualangan di sekitar Nusa Penida juga diperkuat oleh sebuah <strong>komik strip karya kartunis Belgia Bob de Moor<\/strong>, yang diterbitkan di <em>Journal de Tintin<\/em> pada tahun 1950. Dalam kisah tersebut, tokoh Georges Barelli terdampar di Nusa Penida setelah serangkaian petualangan panjang. Sampul album dengan judul <strong>\u201cPulau Penyihir\u201d<\/strong> sudah cukup untuk menegaskan aura mistis yang menyelimuti Nusa Penida!<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone wp-image-2441 size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"742\" height=\"1004\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/History-of-Nusa-Penida-Barelli-Bob-de-Moor-Sorcerers-island.jpg\" alt=\"sejarah Nusa Penida Bob de Moor Barelli Pulau penyihir\" class=\"wp-image-2441\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/History-of-Nusa-Penida-Barelli-Bob-de-Moor-Sorcerers-island.jpg 742w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/History-of-Nusa-Penida-Barelli-Bob-de-Moor-Sorcerers-island-222x300.jpg 222w\" sizes=\"(max-width: 742px) 100vw, 742px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Barelli ke Nusa Penida : Pulau penyihir<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-ilmu-hitam-bagian-tak-terpisahkan-dari-sejarah-nusa-penida\">Ilmu Hitam: Bagian Tak Terpisahkan dari Sejarah Nusa Penida<\/h2>\n\n\n\n<p>Menurut legenda, raja terakhir Nusa Penida, <strong>Dalem Bungkut<\/strong>, dipercaya menjelma menjadi pemimpin dunia gaib yang ditakuti, yaitu <strong>Ratu Gede Mas Mecaling<\/strong>, dewa agung bertaring emas. Versi lain menyebut bahwa Mecaling dahulu tinggal di Bali, tepatnya di desa kecil <strong>Batuan<\/strong>, sebelum diasingkan ke Nusa Penida karena ilmu hitamnya. Hingga kini, sebagian orang Bali masih enggan menyebut namanya dengan suara keras karena rasa takut yang diwariskan turun-temurun.<\/p>\n\n\n\n<p>Mecaling dikenal sebagai penyihir yang sangat kuat. Konon, ia kerap mengirim penyakit dan wabah ke Bali sebagai bentuk balas dendam. Suatu hari, ketika orang Bali merayakan <strong>Nyepi<\/strong> dengan penuh kegembiraan dan tawa, Mecaling menipu mereka dengan menyamar sebagai <strong>Barong<\/strong>, pemimpin pasukan kebaikan. Bersama pasukan iblisnya, ia menyerang dan menghancurkan Bali. Sejak saat itu, <strong>Hari Raya Nyepi<\/strong> ditetapkan sebagai hari hening total\u2014tanpa suara, cahaya, atau perayaan\u2014agar roh jahat tertipu dan mengira Bali kosong. Itulah mengapa <a href=\"https:\/\/nusapenida.org\/id\/perayaan-upacara-adat-bali-nusa-penida\/\">tradisi Nyepi<\/a> dijalankan dengan sangat ketat, terutama di Nusa Penida.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Asal Muasal Ziarah ke Nusa Penida<\/h3>\n\n\n\n<p>Keesokan harinya, masyarakat Bali yang ketakutan meminta pertolongan seorang pendeta. Ia memanggil Barong untuk mengusir Mecaling kembali ke Nusa Penida. Kemudian, imam besar dari <strong>Kerajaan Gelgel<\/strong> datang ke pulau tersebut untuk menyucikan Nusa Penida dari roh-roh gelap dan mengekang kekuatan Mecaling.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, Mecaling tidak pernah benar-benar lenyap. Diyakini bahwa semangatnya masih bersemayam di <strong>Pura Dalem Ped<\/strong>, menjadikan pura ini sebagai sumber kekuatan bagi mereka yang mempraktikkan ilmu hitam, sekaligus tempat suci bagi umat Hindu yang mencari perlindungan dari kejahatan dan penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan hingga kini, terdapat keyakinan bahwa setiap umat Hindu Bali harus melakukan <strong>ziarah ke Pura Dalem Ped<\/strong> setidaknya sekali dalam hidupnya. Dalam ziarah tersebut, seorang pemuja diharapkan mampu menemukan keseimbangan antara energi negatif dan positif. Hanya dengan cara inilah ketenangan dan harmoni sejati dapat dicapai.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone wp-image-2518 size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"860\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali-Indonesia.jpg\" alt=\"Pura Dalem Ped Nusa Penida Bali Indonesia\" class=\"wp-image-2518\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali-Indonesia.jpg 1024w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali-Indonesia-300x252.jpg 300w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali-Indonesia-768x645.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pura Dalem Ped, Nusa Penida<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-pura-apa-saja-yang-ada-di-bali-dan-nusa-penida\">Pura Apa Saja yang Ada di Bali dan Nusa Penida?<\/h2>\n\n\n\n<p>Kata <em>pura<\/em> berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti \u201ckota\u201d atau \u201cistana\u201d. Di Bali terdapat beberapa jenis pura, masing-masing dengan fungsi tertentu dalam kehidupan religius masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pura Kahyangan Jagad<\/strong>: Terletak di wilayah pegunungan, karena pegunungan dianggap sebagai alam sakral, magis, dan angker. Pura kahyangan terpenting di Bali adalah kompleks <strong>Pura Besakih<\/strong> di lereng Gunung Agung.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Tirta<\/strong>: Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, pura ini juga berperan dalam pengelolaan sistem air (subak).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Desa<\/strong>: Terletak di desa atau kota, berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Puseh<\/strong>: Didedikasikan untuk pemujaan Dewa Wisnu.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Mrajapati<\/strong>: Diperuntukkan bagi pemujaan Prajapati, dewa pencipta dan pelindung.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Segara<\/strong>: Berada di tepi laut, berfungsi untuk menenangkan para dewa laut. Pura jenis ini sangat penting dalam upacara <strong>Melasti<\/strong>. Contohnya yang terkenal adalah <strong>Pura Tanah Lot<\/strong>.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Dalem<\/strong>: Didedikasikan untuk pemujaan Dewa Siwa, Dewi Durga, Ibu Pertiwi, Banaspatiraja (barong), Sang Bhuta Diyu, Sang Bhuta Garwa, dan dewa-dewa lain. Pura ini erat kaitannya dengan ritual kematian.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Di Nusa Penida, dua pura yang paling terkenal adalah <strong>Pura Dalem Ped<\/strong> dan <strong>Pura Goa Giri Putri<\/strong>, keduanya sangat penting untuk memahami budaya dan sejarah pulau ini.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pura Dalem Ped<\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Pura Dalem Ped<\/strong> adalah pura terpenting di Nusa Penida. Menurut legenda, pura ini merupakan tempat bersemayam raja iblis <strong>Mecaling<\/strong>. Orang Bali menganggapnya sebagai salah satu pura tersuci di seluruh Bali.<\/p>\n\n\n\n<p>Kompleks Pura Dalem Ped sebenarnya terdiri dari <strong>lima pura<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pura Segara<\/strong> \u2013 istana Batara Baruna (Dewa Laut), terletak di utara dekat pantai, dengan deburan ombak Selat Nusa sebagai latar.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Taman<\/strong> \u2013 sebuah pura taman dengan kolam berisi teratai, digunakan untuk ritual penyucian dengan api.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Penataran Ratu Gede Mecaling<\/strong> \u2013 candi induk di bagian barat, simbol kekuatan magis Nusa Penida.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Pelebaan Ratu Mas<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Bale Agung<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Pengalaman Pribadi<\/h3>\n\n\n\n<p>Saya pertama kali mengunjungi <strong>Pura Dalem Ped<\/strong> pada Desember 2019 untuk mengambil air suci dalam rangka upacara penting saat pembangunan Hotel Adiwana Warnakali. Awalnya saya tahu upacara akan berlangsung di empat pura, tetapi sepanjang hari saya baru menyadari bahwa sebenarnya ada <strong>sepuluh upacara<\/strong>\u2014masing-masing di setiap candi di setiap pura. Percayalah, kami mengumpulkan sangat banyak air suci untuk upacara hari berikutnya!<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone wp-image-2516 size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Collecting-holy-water-at-Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali.jpg\" alt=\"Mengumpulkan air suci di Pura Dalem Ped di Nusa Penida\" class=\"wp-image-2516\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Collecting-holy-water-at-Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali.jpg 768w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Collecting-holy-water-at-Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali-225x300.jpg 225w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Collecting-holy-water-at-Pura-Dalem-Ped-Nusa-Penida-Bali-600x800.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Mengumpulkan air suci di Pura Dalem Ped di Nusa Penida<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-pura-goa-giri-putri\">Pura Goa Giri Putri<\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/nusapenida.org\/id\/goa-giri-putri\/\">Pura Goa Giri Putri<\/a> adalah salah satu dari <a href=\"https:\/\/nusapenida.org\/id\/15-tempat-wisata-nusa-penida\/\">15 situs mengagumkan untuk dilihat di pulau Nusa Penida<\/a>. Itu terletak di dalam gua yang mengesankan. Kata &#8220;goa&#8221; berarti gua, &#8220;giri&#8221; berarti &#8216;bukit&#8217; dan &#8220;putri&#8221; berarti &#8216;putri&#8217;. Gua ini memang merupakan situs suci yang sebagian besar didedikasikan untuk Siwa. Siwa adalah dewa ketiga dalam tiga serangkai Hindu. Tiga serangkai terdiri dari tiga dewa yang bertanggung jawab atas penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran dunia. Dua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Peran Shiva adalah menghancurkan alam semesta untuk menciptakannya kembali.<\/p>\n\n\n\n<p>Di ujung gua, Anda juga akan menemukan kuil yang didedikasikan untuk dewi kasih sayang Buddha Tiongkok, Guanyin.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengunjungi Goa Giri Putri adalah pengalaman yang luar biasa, selalu mempesona. Dan saya tidak pernah melewatkan upacara di pura terakhir di dalam gua untuk mendapatkan gelang merah putih hitam Bali yang terkenal di pergelangan tangan saya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone size-full wp-image-2517\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1280\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Goa-Giri-Putri-Nusa-Penida-Bali.jpg\" alt=\"Pura Goa Giri Putri Nusa Penida Bali Indonesia\" class=\"wp-image-2517\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Goa-Giri-Putri-Nusa-Penida-Bali.jpg 1024w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Goa-Giri-Putri-Nusa-Penida-Bali-240x300.jpg 240w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Goa-Giri-Putri-Nusa-Penida-Bali-819x1024.jpg 819w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Goa-Giri-Putri-Nusa-Penida-Bali-768x960.jpg 768w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Goa-Giri-Putri-Nusa-Penida-Bali-864x1080.jpg 864w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pura Goa Giri Putri, Nusa Penida<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-pura-puncak-mundi\">Pura Puncak Mundi<\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Pura Puncak Mundi<\/strong> terletak di titik tertinggi Pulau Nusa Penida, yaitu lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Akses jalan menuju pura kini dalam kondisi sangat baik, dengan pemandangan indah yang menyingkap panorama seluruh pulau. Kawasan ini masih sangat asri, dan dalam perjalanan Anda hampir pasti akan menjumpai kawanan monyet.<\/p>\n\n\n\n<p>Pura ini didirikan pada <strong>tahun Saka ke-50 (128 M)<\/strong>. Menurut legenda, <strong>Batara Guru<\/strong> (manifestasi Dewa Siwa) turun ke dunia di wilayah Puncak Mundi dan menjelma menjadi seorang pendeta suci bernama <strong>Dukuh Jumpungan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Kompleks Pura Puncak Mundi terdiri dari <strong>tiga pura utama<\/strong>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pura Puncak Mundi<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Beji<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pura Krangkeng<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone size-full wp-image-2720\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Puncak-Mundi-Nusa-Penida-Bali-Indonesia.jpg\" alt=\"Pura Puncak Mundi Nusa Penida Bali Indonesia\" class=\"wp-image-2720\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Puncak-Mundi-Nusa-Penida-Bali-Indonesia.jpg 1024w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Puncak-Mundi-Nusa-Penida-Bali-Indonesia-300x225.jpg 300w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Puncak-Mundi-Nusa-Penida-Bali-Indonesia-768x576.jpg 768w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/Pura-Puncak-Mundi-Nusa-Penida-Bali-Indonesia-800x600.jpg 800w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Pura Puncak Mundi<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-apa-yang-harus-dilakukan-sebelum-memasuki-pura-di-bali\">Apa yang Harus Dilakukan Sebelum Memasuki Pura di Bali?<\/h2>\n\n\n\n<p>Sebelum memasuki pura suci di Bali, ada beberapa aturan dan etika yang perlu diperhatikan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Perhatikan kesucian diri<\/strong>. Wanita yang sedang dalam masa menstruasi tidak diperbolehkan memasuki pura.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kenakan pakaian tradisional Bali<\/strong>, biasanya berupa sarung (<em>kain kamben<\/em>) dan selendang. Jika tidak membawanya, Anda bisa menyewa di area pura.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Jagalah sikap dan pikiran positif<\/strong>. Dilarang melakukan perbuatan buruk atau berbicara kasar di area pura.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone wp-image-2670 size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/rules-to-enter-a-balinese-temple-.jpg\" alt=\"Aturan untuk masuk di pura Bali goa giri putri nusa penida\" class=\"wp-image-2670\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/rules-to-enter-a-balinese-temple-.jpg 1024w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/rules-to-enter-a-balinese-temple--300x225.jpg 300w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/rules-to-enter-a-balinese-temple--768x576.jpg 768w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/rules-to-enter-a-balinese-temple--800x600.jpg 800w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Aturan untuk masuk di pura Bali<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-bagaimana-cara-memakai-sarung-di-bali\">Bagaimana Cara Memakai Sarung di Bali?<\/h3>\n\n\n\n<p>Mengenakan sarung dengan benar sangat penting dalam budaya Bali. Dalam bahasa Bali, sarung disebut <strong>kamen<\/strong>, dan cara memakainya berbeda untuk pria dan wanita.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Untuk Wanita<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Sarung dibungkus dari <strong>kanan ke kiri<\/strong> mengelilingi tubuh, sekitar satu setengah kali, dengan ujung akhir di pinggul kanan.<\/li>\n\n\n\n<li>Lapisan luar harus jatuh lebih rendah daripada lapisan dalam.<\/li>\n\n\n\n<li>Sarung wajib menutupi tubuh dari pinggul hingga mata kaki.<\/li>\n\n\n\n<li>Sarung dapat diikat langsung atau menggunakan tali panjang yang diikat di kedua ujungnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Wanita Bali biasanya mengenakan <strong>korset pinggang<\/strong> di bagian luar agar tetap rapi.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ikat pinggang (senteng)<\/strong> wajib dikenakan ketika menghadiri upacara atau memasuki pura. Senteng dipakai di luar kebaya\/blus.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">Untuk Pria<\/h4>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Pria juga biasanya melengkapi busana dengan <strong>udeng<\/strong> (ikat kepala tradisional Bali).<\/li>\n\n\n\n<li>Sarung dililitkan dari <strong>kiri ke kanan<\/strong> di sekitar pinggul, dengan panjang hingga sekitar betis.<\/li>\n\n\n\n<li>Bagian depan sarung diikat sehingga menyisakan kain ekstra yang jatuh di bagian depan sebagai lipatan, disebut <strong>kembang<\/strong>.<\/li>\n\n\n\n<li>Kamen kemudian diamankan dengan ikat pinggang. Di atasnya dikenakan <strong>ikat pinggang tambahan<\/strong>, sering kali dengan kain pinggul sekunder.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image alignnone wp-image-2526 size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"540\" src=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/baris-jankang-dance-nusa-penida-bali-apel-photography.jpg\" alt=\"tari baris jangkang nusa penida bali apel photography\" class=\"wp-image-2526\" srcset=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/baris-jankang-dance-nusa-penida-bali-apel-photography.jpg 1024w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/baris-jankang-dance-nusa-penida-bali-apel-photography-300x158.jpg 300w, https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/09\/baris-jankang-dance-nusa-penida-bali-apel-photography-768x405.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">tari baris jangkang (foto apel photography)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"h-budaya-nusa-penida\">Budaya Nusa Penida<\/h2>\n\n\n\n<p>Nusa Penida adalah bagian dari Bali, tetapi memiliki dialek Bali sendiri yang tidak digunakan di daerah lain. Selain itu, ada beberapa aspek budaya yang khas dan unik dari Nusa Penida.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Tari Baris Jangkang<\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu tradisi khas Nusa Penida adalah <strong>Tari Baris Jangkang<\/strong>. Tarian ini menggambarkan pasukan iblis yang menjadi pengikut <strong>Dalem Bungkut<\/strong>, raja terakhir Nusa Penida, dalam perang melawan pasukan <strong>Raja Waturenggong dari Gelgel<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Para penari mengenakan pakaian adat khas Nusa Penida (<em>kamben cepuk<\/em>) dan membawa tombak panjang. Pertunjukan diawali oleh sosok badut bertopeng yang menjelaskan latar belakang perang. Setelah itu, pasukan iblis muncul, diikuti oleh Dalem Bungkut dan panglima perangnya, <strong>I Gde Mecaling<\/strong>. Dalem Bungkut dan I Gde Mecaling menari sambil tertawa dan berbicara dengan bahasa setan yang aneh, sementara pasukan iblis bergerak dengan tarian yang sederhana dan lambat.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Warisan Budaya Nasional<\/h3>\n\n\n\n<p>Tarian sakral ini telah ditetapkan sebagai <strong>Warisan Budaya Takbenda Nasional (WBTB)<\/strong> oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. <strong>Desa Adat Pelilit<\/strong> di Nusa Penida, yang terletak dekat Pantai Atuh, sering mementaskan Tari Baris Jangkang saat <strong>piodalan<\/strong> atau festival pura.<\/p>\n\n\n\n<p>Di desa ini, tarian biasanya dibawakan dengan berbagai cerita rakyat, seperti <em>Guak Maling Banten<\/em> (Gagak mencuri sesajen), <em>Buyung Masugi<\/em> (Lalat membasuh muka), dan <em>Jelantik Maisik<\/em> (Bisikan Jelantik). Tujuan utama pertunjukan ini adalah untuk <strong>menolak bencana<\/strong>. Musik pengiringnya sederhana, terdiri dari kempul, gamelan, petuk, simbal, dan dendeng.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain di desa-desa adat, pertunjukan Tari Baris Jangkang juga dapat disaksikan dalam acara besar seperti <strong>Festival Semarapura<\/strong>, <strong>Festival Nusa Penida<\/strong>, dan <strong>Pesta Kesenian Bali<\/strong> yang digelar setiap tahun.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Ada Pertanyaan?<\/h3>\n\n\n\n<p>Jika Anda memiliki pertanyaan tentang sejarah Nusa Penida atau budaya Bali, silakan tinggalkan komentar atau kirim pesan. Anda juga bisa mengunjungi artikel khusus lainnya untuk menemukan lebih banyak <a href=\"https:\/\/nusapenida.org\/id\/informasi-praktis-tentang-nusa-penida\/\">informasi praktis tentang Nusa Penida<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah pulau Nusa Penida di Bali dimulai pada abad ke-10. Tulisan-tulisan paling awal tentang Nusa Penida memang telah ditemukan di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2366,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1569],"tags":[],"class_list":["post-4623","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-information"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.7 (Yoast SEO v27.3) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Budaya &amp; Sejarah Nusa Penida dan Bali<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Jelajahi warisan budaya yang kaya dan sejarah menarik Nusa Penida serta dapatkan wawasan tentang peran pentingnya dalam sejarah Bali.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/nusapenida.org\/id\/budaya-sejarah-nusa-penida-bali\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:locale:alternate\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:locale:alternate\" content=\"fr_FR\" \/>\n<meta property=\"og:locale:alternate\" content=\"it_IT\" \/>\n<meta property=\"og:locale:alternate\" content=\"de_DE\" \/>\n<meta property=\"og:locale:alternate\" content=\"es-es\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Budaya &amp; Sejarah Nusa Penida dan Bali\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jelajahi warisan budaya yang kaya dan sejarah menarik Nusa Penida serta dapatkan wawasan tentang peran pentingnya dalam sejarah Bali.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/nusapenida.org\/id\/budaya-sejarah-nusa-penida-bali\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Nusa Penida\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/NusaPenidaFr\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-11-24T08:36:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-05T02:20:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1023\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"612\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Blaise\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Blaise\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"25 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Blaise\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/a0f6d13de5f4dd14411d21494af653c4\"},\"headline\":\"Budaya &#038; Sejarah Nusa Penida dan Bali\",\"datePublished\":\"2024-11-24T08:36:15+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-05T02:20:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/\"},\"wordCount\":9599,\"commentCount\":2,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/06\\\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg\",\"articleSection\":[\"information\"],\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/\",\"name\":\"Budaya & Sejarah Nusa Penida dan Bali\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/06\\\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg\",\"datePublished\":\"2024-11-24T08:36:15+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-05T02:20:43+00:00\",\"description\":\"Jelajahi warisan budaya yang kaya dan sejarah menarik Nusa Penida serta dapatkan wawasan tentang peran pentingnya dalam sejarah Bali.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/06\\\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2020\\\/06\\\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg\",\"width\":1023,\"height\":612,\"caption\":\"The 7 kingdom of Bali in 1900\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/culture-and-history-of-nusa-penida\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Nusa Penida History, Culture &#038; Black Magic: Why the Island Was Feared\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/\",\"name\":\"Nusa Penida\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id-ID\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#organization\",\"name\":\"Nusa Penida Experience\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id-ID\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/06\\\/Kelingking-Blaise-2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/06\\\/Kelingking-Blaise-2.jpg\",\"width\":500,\"height\":500,\"caption\":\"Nusa Penida Experience\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/NusaPenidaFr\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/nusapenidafr\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nusapenida.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/a0f6d13de5f4dd14411d21494af653c4\",\"name\":\"Blaise\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Budaya & Sejarah Nusa Penida dan Bali","description":"Jelajahi warisan budaya yang kaya dan sejarah menarik Nusa Penida serta dapatkan wawasan tentang peran pentingnya dalam sejarah Bali.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/budaya-sejarah-nusa-penida-bali\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"[:en]Nusa Penida History, Culture &amp; Black Magic: Why the Island Was Feared[:it]Storia e cultura di Nusa Penida[:id]Budaya & Sejarah Nusa Penida dan Bali[:de]Nusa Penida: Kultur und Geschichte[:es]La fascinante historia y cultura de Nusa Penida[:]","og_description":"[:en]Discover the fascinating history of Nusa Penida, from ancient exile island to sacred land of black magic. Learn about its culture and why it was feared.[:it]Esplora il ricco patrimonio culturale e l\u2019affascinante storia di Nusa Penida e scopri il suo importante ruolo nella storia di Bali.[:id]Jelajahi warisan budaya yang kaya dan sejarah menarik Nusa Penida serta dapatkan wawasan tentang peran pentingnya dalam sejarah Bali.[:de]Erkunden Sie Kultur und Geschichte von Nusa Penida und entdecken Sie seine bedeutende Rolle in Balis Vergangenheit.[:es]Descubre la rica herencia cultural e historia fascinante de Nusa Penida, y su papel clave en la historia de Bali.[:]","og_url":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/budaya-sejarah-nusa-penida-bali\/","og_site_name":"Nusa Penida","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/NusaPenidaFr\/","article_published_time":"2024-11-24T08:36:15+00:00","article_modified_time":"2026-04-05T02:20:43+00:00","og_image":[{"width":1023,"height":612,"url":"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Blaise","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Blaise","Estimasi waktu membaca":"25 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/"},"author":{"name":"Blaise","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#\/schema\/person\/a0f6d13de5f4dd14411d21494af653c4"},"headline":"Budaya &#038; Sejarah Nusa Penida dan Bali","datePublished":"2024-11-24T08:36:15+00:00","dateModified":"2026-04-05T02:20:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/"},"wordCount":9599,"commentCount":2,"publisher":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg","articleSection":["information"],"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/","url":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/","name":"Budaya & Sejarah Nusa Penida dan Bali","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg","datePublished":"2024-11-24T08:36:15+00:00","dateModified":"2026-04-05T02:20:43+00:00","description":"Jelajahi warisan budaya yang kaya dan sejarah menarik Nusa Penida serta dapatkan wawasan tentang peran pentingnya dalam sejarah Bali.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id-ID","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#primaryimage","url":"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg","contentUrl":"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/History-of-Bali-map-of-Bali-in-1900.jpg","width":1023,"height":612,"caption":"The 7 kingdom of Bali in 1900"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/culture-and-history-of-nusa-penida\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/nusapenida.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Nusa Penida History, Culture &#038; Black Magic: Why the Island Was Feared"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#website","url":"https:\/\/nusapenida.org\/","name":"Nusa Penida","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/nusapenida.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id-ID"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#organization","name":"Nusa Penida Experience","url":"https:\/\/nusapenida.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id-ID","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/Kelingking-Blaise-2.jpg","contentUrl":"https:\/\/nusapenida.org\/wp-content\/uploads\/2018\/06\/Kelingking-Blaise-2.jpg","width":500,"height":500,"caption":"Nusa Penida Experience"},"image":{"@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/NusaPenidaFr\/","https:\/\/www.instagram.com\/nusapenidafr\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/nusapenida.org\/#\/schema\/person\/a0f6d13de5f4dd14411d21494af653c4","name":"Blaise"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4623","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4623"}],"version-history":[{"count":20,"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4623\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6893,"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4623\/revisions\/6893"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2366"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4623"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4623"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nusapenida.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4623"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}